Dukung Indonesia untuk ICN 2009

Salam PPI !

Datang dan dukung Indonesia di ICN (International Culture Night), 24 April 2009 di Chancellor Hall.

img

Vote untuk Indonesia dengan cara:

1. Ketik SMS: bid 9

2. Kirim ke 33228

Tiap SMS bernilai 1 point, tiap sms seharga RM 0.50

Voting berlangsung dari tgl 19 April 2009 sampai 24 April 2009.

Tiga Negara peraih point tertinggi akan mendapatkan penghargaan.
Dua puluh pemilih yang beruntung akan mendapatkan goodie bags saat acara.

Kirim SMS sebanyak-banyak nya dan mari kita dukung negara kita.

Terima kasih,

Ketua PPI UTP,
Redhata Gama Ardhian Rangkuti

Advertisements

Menang, Sikaryo dari Indonesia

Lagi, Mahasiswa Indonesia menorehkan prestasinya di ajang bergengsi yang digelar kampus UTP. Kali ini adalah Pak Dani Adhipta, Pak Lava Himawan, Pak Muhammad Arrofiq, Pak Suwardo, dan Waskito yang berprestasi dalam lomba Creative Innovation Competition (CIC) 2009 yang diadakan Mecheclub, Rabu (08/04) Kemarin. CIC ini merupakan kompetisi desain unpowered glider, yakni  glider tanpa motor yg dilempar.

sikaryo
Dua tim dari Indonesia yang mengikuti lomba yang menjadi rangkaian acara Engineering Innovation Carnival ini adalah Sikaryo 1 dan Sikaryo 2.  Kenapa Sikaryo?  “Lha namanya kan diambil dari Waskito, terus plesetan waskita karya, waskito karyo, si karyo, jadinya ya sikaryo, hahaha… wong itu juga muncul ndadak gara2 harus punya nama grup kok,” jawab Pak Dani seperti ditulisnya dalam obrolan dengan penulis via YM.

Sikaryo 1 memang didesain berbeda dengan Sikaryo 2. Desain Sikaryo 1 adalah delta wing glider yang diakui Pak Dani sebagai desain yang agak radikal dan eksperimental. Sehingga meskipun sukses dalam beberapa uji coba, namun pesawat ini tidak sukses saat lomba alias langsung nyungsep.  “Mungkin kondisi angin dan lokasi lemparan yg dari atas di Pocket C jadi gak bisa diprediksi”, papar pak Dani. Sedangkan Sikaryo 2 merupakan pesawat klasik biplane atau sayap ganda. Dalam beberapa tes yang telah dilakukan, desain sayapnya memang cukup efisien. Dan terbukti Sikaryo 2 berhasil menyabet penghargaan dalam kriteria best effisiency.

Secara keseluruhan, menurut Pak Dani, tim Indonesia juga unggul di jarak terbang dan sesi presentasi teknis yg saat itu diwakili oleh Pak Rofiq. Dan Sikaryo 2 pun dinobatkan sebagai juara 3 dalam lomba yang diikuti 28 tim dari semua departemen di UTP. Uang tunai RM 350 dan hamper berhak menjadi hadiah mereka.

Tak hanya dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam tim, kebahagiaan ini juga turut diasakan beberapa Mahasiswa lain yang mendapat traktiran dari hadiah tersebut. Yakni Chicken Chop, salah satu menu paling mahal di kantin2 UTP. Acara ini dimulai pukul 10 pagi dengan sesi presentasi terlebih dahulu. Kemudia sesi terbang pukul 2 siang dan pembagian hadiah dilaksanakan pada sore harinya, pukul 5.

Kunjungan PonPes Darul Ulum di UTP

Pimpinan majelis beserta para kepala sekolah dan beberapa guru Ponpes Darul Ulum Jombang mengadakan lawatan ke Universiti Teknologi PETRONAS (UTP) Malaysia pada hari Jum’at (6/3/2009) yang lalu. Rombongan yang dipimpin oleh KH A. Tamim Romly, turut mendampingi beliau: KH Zaimuddin WA, KH M. Hamid Bishri, beserta kepala sekolah dan guru di SMU/SMK/MA Darul Ulum, tiba di Kuala Lumpur pada hari Selasa (3/3/2009).

ponpesdu
Rombongan Ponpes Darul Ulum terlebih dahulu mengunjungi Adni Islamic School yang berlokasi di Taman Sri Ukay, Ampang, Selangor. Kunjungan ini bertujuan sebagai studi banding sehubungan dengan program SMU Darul Ulum 2 menjadi sekolah berstandar internasional (SBI). Rombongan kemudian bertolak dari Kuala Lumpur ke negeri Perak, dan tiba di lokasi pada hari Kamis (5/3/2009) petang, kemudian beristirahat di kompleks Bandar Universiti. Keesokan paginya, pada pukul 09:00 waktu setempat, rombongan melanjutkan lawatan ke Universiti Teknologi PETRONAS.

Setibanya di UTP, rombongan terlebih dahulu disambut oleh Ust. Dawi Cahyono Bin Nurdin, selaku imam I masjid An-Nur UTP, yang kemudian mendampingi selama di UTP. Acara dibuka dengan ramah-tamah oleh kedua belah pihak. KH A. Tamim Romly, selaku perwakilan dari Ponpes Darul Ulum, memberikan selayang pandang mengenai pendidikan di Darul Ulum, visi dan misi pesantren, prestasi yang telah diraih, profil para almuninya, serta peluang kerja sama yang mungkin bisa dijalin antara Ponpes Darul Ulum dengan UTP. Acara kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari pihak UTP mengenai profil institusi, visi dan misi, serta komposisi mahasiswa asing yang sedang belajar disana, baik pada tingkat sarjana maupun pasca sarjana.

Sesuai dengan catatan UTP, pelajar yang berasal dari Indonesia menempati urutan kedua dari segi jumlah pelajar asing yang sedang belajar di UTP. Jumlah pelajar asing di UTP yang terbanyak berasal dari Sudan. Sehubungan dengan salah satu cita-citanya untuk menjadi research university berskala internasional, UTP menargetkan jumlah mahasiswa pasca sarjana (postgraduates) bisa mencapai total 1200 mahasiswa. Target ini masih cukup jauh, mengingat saat ini jumlah mahasiswa pasca sarjana yang sedang belajar di UTP, lokal dan internasional, baru mencapai sekitar 500 orang. Sehingga, akan sangat memungkinkan bagi pelajar-pelajar dari Indonesia yang memenuhi kualifikasi UTP untuk melanjutkan belajar di sana. Namun, untuk tingkat sarjana (undergraduates), jumlah mahasiswa di UTP sejauh ini sudah memenuhi quota yang ditargetkan, sehingga pihak universitas hanya memberikan jatah beasiswa kepada sekitar sepuluh pelajar dari Indonesia untuk setiap tahunnya. Proses seleksi beasiswa undergraduates biasanya akan diumumkan melalui surat kabar setempat, yang untuk Indonesia biasanya diumumkan melalui surat kabar “Kompas” dan proses seleksi akan dilakukan di kantor cabang PETRONAS di Jakarta.

Acara kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi fasilitas-fasilitas yang tersedia di UTP. Dimulai dari perpustakaan pusat UTP, yang lebih dikenal dengan sebutan information resource center (IRC), dan fasilitas belajar di sekitar kompleks chancellor, kunjungan sedianya akan dilanjutkan dengan melihat laboratorium-laboratorium teknik yang tersedia. Namun, karena keterbatasan waktu, kunjungan akhirnya difokuskan hanya pada laboratorium instrumentation and control serta power system di Department of Electrical and Electronics Engineering.

En. Azhar dan En. Zuraimi sebagai lab technologist di kedua laboratorium tersebut menjelaskan dengan singkat mengenai peralatan-peralatan yang ada serta sistem belajar yang digunakan. Rombongan dari Ponpes Darul Ulum kemudian mengunjungi laboratorium power electronics, dan bertemu dengan salah satu lab demonstrator disana: Bpk. A Rofiq, yang juga seorang dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan sedang menyelesaikan program S3-nya di UTP.

Selepas berkunjung ke laboratorium, acara dilanjutkan dengan makan siang dan bertukar cindera mata. Selain ust. Dawi Cahyono, ust. Rahmat Bin Abu Seman, imam II masjid An-Nur UTP, juga berkesempatan mendampingi rombongan. Sebagai salah satu anggota dari rombongan Ponpes Darul Ulum, ust. Sholikhan merasa berbahagia dapat bertemu dengan ust. Rahmat, yang merupakan kakak kelas beliau sewaktu menjadi santri di Ponpes Darussalam, Gontor, Ponorogo.

Acara kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi “Pusat Kecemerlangan Insan” di sekitar kompleks masjid An-Nur. Selayaknya museum, ruangan ini menyimpan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah yang berhubungan dengan perkembangan Islam di Malaysia. Ust. Dawi Cahyono dan ust. Rahmat sebagai pemandu memberikan keterangan singkat tentang benda-benda yang dipamerkan di sana.

Usai melakukan kunjungan ke UTP, rombongan dari Ponpes darul Ulum kemudian bertolak ke Kuala Lumpur, sekitar pukul 15:00 waktu setempat, untuk melanjutkan acara dan bertemu dengan beberapa alumni yang ada. Keesokan harinya, Sabtu (7/3/2009) rombongan kembali ke Indonesia dan tiba dengan selamat sampai di Ponpes Darul Ulum kembali. (Tri Chandra).

Laporan Keuangan PPI-UTP per 02/09

ppi1

ppi2

Oleh Bendahara PPI-UTP (Santi):
cp11

Selamat Datang di Negeri Tanpa Pornografi

Eramuslim, 19 Sep 08 08:12 WIB

Oleh Ummu Syaqila

Pekan ini, menjelang sepuluh akhir bulan suci Ramadhan, banyak kisah yang membuat diri terasa ingin mencebur mengikuti arus. Namun terkadang tak kuasa kaki ini melangkah. Ya… akhir September 2008 nanti tepatnya tanggal 23, RUU Pornografi bakal disahkan oleh DPR-RI, meski agak sedikit lebih alot, harapan besar bakal digapai. Betapa tidak, sudah ada 8 fraksi yang mendukung RUU ini.

Perjuangan menjadikan sebuah RUU Pornografi butuh waktu 10 tahun, setelah mengalami proses yang cukup melelahkan akhirnya bakal disahkan juga. Meski, ada pihak-pihak yang belum sepenuhnya menerima atau bahkan menolak dengan berbagai alasan. Ada yang menganggap berbagai pasal yang rancu, kabur, kurang lengkap, menguntungkan berbagai pihak atau tidak merepsentasikan sebagai negara yang Berbhineka Tunggal Ika. Mereka khawatir kalau RUU ini jadi, sejumlah kebudayaan asli Indonesia terancam punah.

Di satu pihak penggagas RUU ini tetap optimis bahwa nantinya RUU ini jika diterapkan bakal membawa kebaikan bangsa karena sesuai dengan butir pertama Pancasila, amanat UUD 1945, menyelamatkan generasi bangsa terutama anak-anak dan remaja dari pengaruh buruk pornografi yang merajalela, penegakan nilai demokrasi dan sesuai ciri khas bangsa Indonesia yang berpegang teguh pada nilai-nilai moralitas dan kesopanan. Selain itu, paham Barat yang mengagungkan kebebasan justru tak mampu melepaskan warganya dari efek buruk pornografi.

Sebagai warga negara, dengan maraknya pornografi di negeri ini sangat prihatin. Apalagi sejauh ini para pelaku, distributor atau media nyaris tak tersentuh oleh hukum. Penjualan VCD maupun DVD porno marak, belum lagi tarian dan aksi porno yang dipertontonkan para artis seolah menjadi angin lalu. Akibatnya, kalangan anak-anak dan remaja banyak terpengaruh karena begitu mudah dan vulgar mereka dapatkan. Akibatnya rangkaian aksi pornografi pelakunya sudah menjurus pada anak-anak dan remaja yang masil lugu.

Di sisi lain RUU ini mengancam keberlangsungan hidup para artis, produser, media atau intertainment yang notabene mencari penghidupan dari sini. Mereka bakal kehilangan order dan terpaksa banting setir mencari pekerjaan lain. Tapi tidaklah suatu yang merugikan, karena toh, masyarakat sepakat bahwa aksi pornografi tidak dibenarkan dalam kebudayaan negeri yang telah mendarah daging.

Hidup dalam negeri yang sopan, santun, beradap, bermoral dan tanpa pornografi adalah sebuah hadiah terindah di bulan Ramadhan ini. Di sana anak-anak dan remaja maupun orang tua begitu terhormat. Para orang tua tak lagi risau, dan semakin ringan dalam menjalankan aktivitas yang pada akhirnya kemakmuran dan kesejahteraan tercapai.

Sehingga suatu saat, “Selamat Datang di Negeri Tanpa Pornografi” bakal terwujud.

Posted in Uncategorized. Comments Off on Selamat Datang di Negeri Tanpa Pornografi

Evaluasi di Pertengahan Ramadhan

Eramuslim, 11 Okt 06 08:33 WIB
Oleh Nely Dyahwathi

Kawan, apa kabarmu hari ini? Sehat kah? Bagaimana kabar ruhanimu? Tidak dalam keadaan futur kan? Kawan, tidak terasa sudah 15 hari telah kita lewati di bulan Ramadhan ini. Ada rasa senang, bahagia, gembira, cemas, bahkan sedih. Di antara tawaran diskon belanja, parcel lebaran yang berwarna-warni, antrian loket tiket mudik serta rasa kangen berkumpul dengan keluarga yang semakin menggebu; ada rasa cemas dan sedih di dalam hati. Cemas memikirkan apakah ibadah Ramadhan telah dilakukan dengan optimal. Sedih mengingat tinggal setengah perjalanan lagi Ramadhan sudah meninggalkan kita. Apakah masih ada umur untuk bertemu dengan bulan Ramadhan tahun depan? Bagaimana jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita? Wallahu alam.

Untuk itu kawan, ada baiknya kita mengevaluasi diri. Apakah sudah sepenuh hati kita beribadah di bulan Ramadhan tahun ini. Ada baiknya beberapa pertanyaan kita tujukan pada hati nurani kita dan hanya kita sendiri yang tahu jawabannya.

Sudahkah kita menahan hawa nafsu kita, bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga semata? Apakah sudah terasa penderitaan orang-orang yang kelaparan? Sudahkan kita memberi ifthor untuk orang yang berpuasa? Atau masih terasa berat untuk berbagi pada saat berbuka puasa?

Sudahkan malam Ramadhan kita isi dengan tarawih? Atau kita masih sering meninggalkan sunnah muakad ini? Sudahkah kita perbanyak bacaan ayat suci Al-Qur’an? Sudah khatam kah? Atau lebih banyak waktu yang terbuang daripada untuk membaca dan mengkajinya?

Sudahkah sepertiga malam terakhir kita isi dengan qiyamul lail? Atau untuk sahur saja kita tidak kuasa untuk bangun?

Sudahkah kita sucikan dosa-dosa dengan taubat? Atau malah semakin banyak dosa baru yang kita buat? Padahal bulan Ramadhan adalah bulan pengampunan.

Sudahkan kita sisihkan harta untuk shadaqoh? Atau sudah tidak tersisa lagi setelah membeli baju lebaran?

Sudahkah kita persiapkan diri untuk mendapatkan Lailatul Qodar? Bisakah kita merasakan isyarat datangnya malam seribu bulan ini?

Sudahkah kita berjuang sekuat tenaga melawan hawa nafsu sehingga nantinya pantas menjadi pemenang di hari yang fitri? Ataukah merapuh semangat juang kita di tengah jalan?

Sudahkah kita mempersiapkan ketulusan hati untuk memberi maaf? Sudah siapkah lisan dan hati kita mengucapkan maaf untuk melebur dosa yang telah lalu? Atau ego masih sulit untuk kita kalahkan?

Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih baik di pertengahan Ramadhan ini? Sudahkah kita meraih puasa Khawashul Khawash? Yaitu puasa yang mengikat hati dengan kecintaan pada Allah, tidak memperhitungkan selain Allah, membenci perilaku maksiat dan hanya menyibukkan hati dengan ketaatan dan dzikir pada-Nya.

Kawan, kita berharap sebagian besar bahkan semua pertanyaan evaluasi di atas kita jawab “SUDAH”. Apabila masih ada yang belum bisa kita jawab, masih ada setengah perjalanan lagi meningkatkan kualitas ibadah kita. Masih ada sepuluh malam terakhir untuk kita mohon ampunan kepada-Nya. Masih ada kesempatan menyisihkan harta untuk berzakat di akhir bulan Ramadhan. Semoga Allah memberi kekuatan dan kesabaran untuk meningkatkan amal ibadah kita. Semoga Allah memanjangkan umur dan mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun depan dan semoga kelak kita mendapatkan surga Ar-Rayyan, yaitu surga untuk orang-orang yang berpuasa. Amin

Posted in Uncategorized. Comments Off on Evaluasi di Pertengahan Ramadhan

Melatih Anak Puasa Sejak Dini?

Tanpa dirasa, Ramadhan telah tiba. Bulan yang penuh rahmah dan berkah. Bulan yang penuh dengan pengampunan dan pembebasan dri api neraka. Buat kita orang tua, yang telah berpuluh kali menjalani puasa tentu sudah tahu apa tujuan, makna dan faedah puasa, tapi bagaimana dengan anak-anak kita?

Apa yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita tentunya mendorong kita untuk semakin memperhatikan pendidikan anak-anak kita agar mereka bisa menjadi anak-anak yang sholeh dan solihah. Anak-anak yang ketika dewasa nanti bisa menjadi muslim yang baik, anak yang taqwa dan selalu mendahulukan Allah, ketika kita harus pergi menghadap Allah, dia bisa menyembahyangkan dan selalu mendoakan kita pula, ketika kita menjadi penghuni alam barzah.

Untuk itu marilah kita manfaatkan semaksimal mungkin kesempatan emas dengan datangnya Ramadhan yang mulia ini untuk memberikan latihan-latihan ruhiyah bagi anak-anak kita, dengan mempersiapkan dan melatih mereka menjalankan ibadah puasa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Kapan anak sudah bisa kita latih berpuasa? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita simak sebuah hadits ketika seseorang bertanya kepada Rosulullah tentang : Kapan seorang anak dilatih untuk shalat? Rosulullah menjawab: “Jika ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kirinya.” Kalau kita memperhatikan hadits di atas, menurut bapak ibu usia berapa anak kita bisa membedakan tangan kanan dan tangan kirinya? Tentu sekitar 2 sampai 3 tahun bukan? Pada hadits yang lain Rosulullah saw bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat pada usia 7 tahun dan pukulah ia pada usia 10 tahun (jika meninggalkannya )” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Sabrah bin Maâ??bad Al-Juhani ra).

Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam mengatakan bahwa perintah mengajar shalat ini dpat disamakan untuk ibadah lainnya seperti shoum dan haji bila telah mampu. Mengikuti kedua hadits dan pendapat di atas,dapat dikatakan bahwa seperti halnya shalat maka puasapun sudah dapat diperkenalkan pada anak sejak mereka berusia dua atau tiga tahun, yaitu ketika mereka sudah tahu membedakan tangan kanan dan tangan kirinya. Kalau memang sudah demikian kata Rosulullah tentu tidak ada alasan buat kita membantahnya.

Bagaimana dasar ilmiah dan psikologisnya melatih anak anak sejak dini?

1. Hasil temuan tentang otak yang dipublikasikan bulan Oktober tahun 1997 di Amerika menunjukkan bahwa pada saat lahir Alllah iu membekali manusia dengan 1 milyar sel-sel otak yang belum terhubungkan satu dengan yang lainnya. Sel-sel ini akan saling berhubungan bila anak mendapat perlakuan yang penuh kasih sayang, perhatian, belaian bahkan bau keringat orang tuanya. Hubungnan sel-sel tersebut mencapai trilliun begitu anak berusia 3 tahun.

Dari usia 3 sampai 11 tahun terjadi apa yang disebut proses restrukturisasi atau pembentukan kembali sambungan-sambungan tersebut. Hal-hal yang tidak ulang-ulang akan menjadi lapuk dan gugur. Bila temuan ini kita hubungkan dengan hadits di atas, maha benar Rosulullah bahwa kita perlu memperkenalkan berbagai hal kepada anak kita termasuk di dalamnya masalah beribadah sedini mungkin dan mengulang-ulangnya selama 7 tahun, sehingga pada usia 10 tahun anak kita bukan saja sudah mampu melakukannya dengan baik tapi juga insya Allah telah memahami makna pentingnya ibadah tersebut sehingga ia rela menerima sanksi bila ia tidak menunaikan ibadah tersebut dengan baik.

2. Kita mengetahui bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah, sehingga mudah dibentuk sesuaidengan apa yang diinginkan orang tuanya.

3. Pada usia muda, anak menerima nilai dan kebiasan yang kita tanamkan dengan mempercayainya tanpa argumen. Usia 0-3 tahun ego anak belum begitu berkembang sehingga dia tidak seperti anak yang lebih besar yang egonya sudah mengalami perkembangan lebih baik, sehingga gampang protes.

4. Masa anak-anak adalah masa yang sangat menentukan bagi pembentukan kepribadiannya kelak. Hal-hal yang baik maupun buruk yang terjadi dimasa balita mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupannya kelak.

5. Memanfaatkan daya ingat anak yang kuat semasa kecil seperti pepatah Arab : Belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir di atas air.

6. Sebelum usia 5 tahun tokoh identifikasi anak adalah orang tua. Bila dia bertambah besar dan lingkungan pergaulannya sudah melebar dari hanya rumah maka anak juga mulai mengidentifikasi orang-orang lain di sekitarnya.

7. Mendidik anak tidak sama dengan mengajar. Mendidik anak adalah membantu anak mencapai kedewasaan baik dari segi akal, ruhiyah dan fisik. Jadi apa yang kita lakukan adalah membantu anak untuk kenal dan tahu sesuatu, kemudian dia mau dan bisa kemudian menjadi biasa dan terampil mengamalkannya. Hal ini bukan saja membutuhkan waktu yang lama tetapi juga kemauan yang kuat, kasabaran, keuletan dan semakin awal memulainya semakin baik.

Bagaimana kiatnya? Kiat utamanya adalah seperti apa yang tergambar dari riwayat bawah ini:

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkandari Ar-Rubaiyyi binti Muawwidz, berkata : Rosulullah saw mengutus seseorang pada pagi hari Asyura ke perkampungan orang-orang Anshor, katanya: “Siapa yang pagi ini berpuasa maka hendaklah ia berpuasa dan menyempurnakan puasanya. Maka kamipun menyempurnakan puasa pada hari itu dan kami mengajak anak-anak kami berpuasa. Mereka kami ajak ke masjid, lalu kami beri mereka mainan dari benang sutera. Jika mereka menangis minta makan kami berikan mainan itu, sampai datang waktu berbuka.” Hadits di atas mengajarkan kepada kita metode yang tepat dalam melatih anak beribadah yaitu melalui permainan.

Bukankah bermain itu dunia anak-anak? Dan sudah pasti mereka menyukainya. Bagi kita orang tua, walaupun kelihatannya sepele hal ini tidaklah mudah. Bagaimana menyampaikan apa yang kita tahu tentang puasa itu dengan cara yang menyenangkan kalau bisa melalui bermain. Ini melalui persiapan dan ketekunan.

By Dr. Irwan • Agu 26th, 2008 • Category: Tumbuh Kembang
http://dokteranakku.com/?p=197

Posted in Uncategorized. Comments Off on Melatih Anak Puasa Sejak Dini?