Belajar Jadi Pengusaha dalam CRAFT

Ada yang baru dalam agenda mahasiswa UTP tahun ini. Adalah CRAFT atau Creative Art Festival, yang diadakan dari tanggal 16 hingga 18 Februari. layaknya bazar, beberapa stand yang berjajar di sepanjang foyer pocket D pun menjual cup cakes, kaos lucu, ais ABC, dan kue tart.

PPI UTP juga tak ingin menyia2kan kesempatan ini. Batik yang merupakah kain khas dari Indonesia menjadi barang dagangan andalan. Selain baju batik, kain ini juga dijahit rapi menjadi kantung hape dan penutup kotak tisu. Kak Santi selaku Bendahara PPI UTP yang menjadi supervisor dadakan, mengaku bahwa barang2 ini dibawanya dari Indonesia.

dscn0599

Perbedaan nilai mata uang pun menjadi keuntungan tersendiri. Bayangkan saja, untuk kantung hape yang dibelinya dengan harga 7500, bisa dijual dengan harga 15 Ringgit atau setara dengan 45 ribu Rupiah. Namun karena tidak kunjung laku, harga nya pun didiskon menjadi 10 Ringgit. ” Hal seperti ini bisa membuat kita belajar tentang pangsa pasar di UTP loh, berapa kira2 harga jualnya”, ungkap Kak Santi.

Selang beberapa saat, beberapa barang pun mulai terjual. Keuntungan pun sudah bisa terlihat akibat kurs Ringgit ke Rupiah.  “Ayo dong bawa barang dari Indonesia, klo emang mau ikutan bisnis juga. Kan masih banyak event2 di UTP ini, misalnya convo fair” ajak student Master di Mechanical Engineering Department ini dengan semangat.

Selain batik, PPI UTP juga menjual coklat hias milik Pak Abdul Basith. Coklat berbentu hati ini merupakan buatan sendiri dan dibandrol dengan harga dari 5 Ringgit.

Advertisements